Tampilkan postingan dengan label Penyakit Pada Lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Pada Lele. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

BERBAGAI PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA DALAM BUDIDAYA LELE

1. Efek hujan & cuaca yang tak menentu sangat berpengaruh terhadap budidaya lele. Hal ini bisa menimbulkan urutan-urutan peristiwa yang menyebabkan stres lingkungan, akan mengakibatkan perubahan tekanan osmotik, perbedaan temperatur dasar kolam dan permukaan air. Sifat air hujan yang kurang baik bagi kehidupan lele adalah keasaman yang agak tinggi (pH rendah) yang bisa meningkatkan resiko tumbuhnya jamur dan bibit penyakit. Untuk mengatasinya adalah dengan cara pembuangan air bagian atas kolam kira-kira setinggi 10 - 20 cm.
Beberapa solusinya adalah sebagai berikut:
* Penggaraman, yaitu untuk mengontrol kosentrasi larutan dalam tubuh ikan sehingga tekanan osmosis dalam tubuh ikan dan lingkungan seimbang.
* Menaikkan tinggi air kolam, tujuannya untuk menjaga tidak terjadi fluktuasi suhu yang tinggi
* Tambahkan pada pakan Vit C, Vit B Complex, atau ekstrak bawang putih untuk meningkatkan sistem imun/anti bodi pada lele.
* Sipon dan penggantian air untuk mengendalikan kepadatan plankton dan mengurangi potensi munculnya bibit penyakit.
* Tebar probiotik, tujuannya untuk mempercepat perombakan bahan organik (bisa menggunakan probiotik Biocatfish)
* Pemberian aerasi untuk menjaga kandungan oksigen terlarut dalam air.

2. Kondisi lingkungan budidaya baik secara fisika, kimia dan biologis berpengaruh terhadap kesehatan dan produktifitas kolam budidaya. Ikan yang terekspos oleh gas beracun seperti H2S, NH3 dan CO2 dpt menyebabkan stres dan akhirnya timbul penyakit yang berujung pada kematian ikan. Jenis limbah yang dihasilkan di kolam budidaya lele pada dasarnya sama. Namun, ada perbedaannya dalam hal kualitas dan kuantitas komponen bergantung pada metode budidaya lele yang diterapkan.
Limbah di kolam budidaya dikategorikan dalam:
* Sisa pakan
* Limbah dari pupuk
* Sisa hasil metabolit
* Limbah dari plankton mati
Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas air, menjaga kesehatan dan stabilitas sistem budidaya lele adalah aplikasi probiotik ke kolam. Tujuannya adalah:
* Mengoptimalkan laju nitrifikasi untuk menjaga ammonia rendah.
* Mengoptimalkan laju denitrifikasi untuk mengeliminir kelebihan nitrogen sebagai gas nitrogen dari kolam.
* Memaksimalkan mineralisasi karbon menjadi karbondioksida untuk meminimalkan akumulasi lumpur.
* Mempertahankan komunitas mikroba (probiotik) yang beragam dan stabil dimana species patogen yang tak diinginkan dapat dikurangi.

3. Ikan mengambang di permukaan air ada berbagai faktor yg mempengaruhinya :
* Kondisi oksigen rendah, terutama pada malam hari dan sering terjadi jika kondisi plankton terlalu pekat.
* Penumpukan bahan organik di dasar kolam sehingga terjadi zona anaerob yang luas di dasar kolam dan terjadi akumulasi gas beracun (NH3, NO2, H2S).
* Perubahan/fluktuasi pH yang tinggi sehingga menyebabkan stress pada lele.
* Serangan infeksi.
Solusinya adalah:
* Jika plankton terlalu pekat lakukan pengurangan density plankton dengan cara sirkulasi air dan sterilisasi air.
* Penumpukan bahan organik dapat diatasi dengan cara siphon/pembuangan kotoran dasa
* Jika ada gejala infeksi seperti luka, sirip merah, sisik mengelupas dll, segera lakukan pengobatan. Pengobatan dapat dilakukan secara alami ataupun menggunakan bahan kimia.

4. Jika menemui lele kembung maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah pemuasaan.
Banyak sebab yang membuat ikan lele kembung;
* Over feeding sehingga pakan mengembang di lambung. Solusinya berikan pakan secukupnya sesuai perhitungan FR (Feeding Rate) dan lakukan pembasahan pada pakan sebelum di berikan dengan campuran suplemen/Vitamin.
* Salah satu jenis bakteri bisa menyebabkan ikan lele menjadi kembung. Kalau lele masih mau makan, berikan antibiotik pada pakannya sesuai dosis selama satu minggu.
* Tekanan gas dalam air berlebihan sehingga mengakibatkan "emboli" (kembung perut, atau penumpukan gas dalam gelembung renang) atau juga terjadi inbalance antara pH lingkungan dengan pH dalam darah ikan. Jika ini yang terjadi maka lakukan sirkulasi air pada pagi atau malam hari untuk mengencerkan air.

Jumat, 21 Februari 2014

PENYAKIT PADA LELE

Dalam setiap budidaya tentu ada kendala dan resiko yang harus dihadapi termasuk budidaya lele. Kendala yang sering dihadapi salah satunya adalah penyakit yang bisa beresiko kegagalan atau kerugian. Tidak sedikit pembudidaya lele yang mengalami hal ini. Penyakit pada lele bisa disebabkan karena kondisi kolam yang tidak baik atau karena pengaruh lingkungan. Hal yang penting untuk dilakukan adalah tindakan pencegahan yaitu dengan menjaga kondisi kolam agar tetap terjaga kualitasnya. Namun jika penyakit sudah terlanjur menghampiri si ikan berkumis ini mau tidak mau harus dilakukan pengobatan. Berikut beberapa penyakit yang biasa ada pada lele.

1.    Aeromonas Hydrophilia
Aeromonas Hydrophilia merupakan bakteri yang sangat sering menyerang lele. Banyak pelaku budidaya mengeluhkan tentang penyakit ini jika sudah menyerang lele dan bisa menyebabkan kematian secara massal. Penyebab bakteri ini biasanya karena sisa pakan dan kotoran lele yang terlalu banyak mengendap didasar kolam sehingga membusuk. Pembusukan ini menyebabkan kandungan amoniak meningkat dan meracuni air kolam sehingga populasi bakteri meningkat cepat dan menyerang lele. Gejala benih lele yang terserang penyakit ini adalah pembengkakan pada bagian perut yang bukan berisi pakan melainkan berisi cairan bening. Bagian sirip juga membengkak dan timbul luka borok pada bagian sirip dan ekor. Lele juga akan kehilangan nafsu makan dan sering Nampak pada permukaan air.

2.    Mycobacterium Fortoitum
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini disebut tubercolosis. Bakteri muncul karena kualitas air yang menurun yang biasanya disebabkan oleh penumpukan sisa pakan dan kotoran didasar kolam. Bakteri ini menyerang semua ukuran lele, baik benih maupun dewasa. Gejala yang ditimbulkan oleh bakteri ini adalah lele terlihat lebih gelap dari biasanya, kemudian terdapat bintik putih pada bagian mulutnya. Lele akan bertingkah laku seperti memiringkan tubuhnya pada permukaan air.

3.    Flexibacter Columnaris
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini muncul bisa disebabkab oleh kualitas air yang buruk atau bisa juga disebabkan oleh pengaruh lingkungan seperti fluktuasi suhu yang tinggi. Ciri lele yang terserang bakteri ini adalah terjadi pendarahan pada bagian tubuh lele yang mengalami luka. Bakteri ini kemudian akan menyerang bagian insang sehingga disebut juga radang insang.

4.    Trichodina Sp.

Trichodina Sp. adalah penyakit yang biasa menyerang ikan lele jika ditebar dengan padat tebar tinggi. Hal ini menyebabkan konsentrasi oksigen didalam kolam menjadi berkurang sehingga parasit yang berasal dari golongan protozoa ini berkembang pesat dan menjangkiti lele. Penyakit ini bisa juga disebut penyakit gatal. Ciri-ciri lele yang terserang penyakit ini biasanya lele akan suka terlihat menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding kolam. Tingkah laku tersebut disebabkan oleh luka dan pendarahan dibagian punggung lele. Ikan lele juga terlihat lambat gerakannya, nafsu makannya berkurang, serta banyak mengeluarkan lendir.