Tampilkan postingan dengan label Tips Lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Lele. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Maret 2014

Tips Penyortiran dan Pendederan Benih Lele

Baik segmen usaha pembenihan atau pun pembesaran lele mesti ada tahap penyortiran. Hal ini bertujuan agar semua benih lele tumbuh baik dan seragam. Pada bahasan berikut ini akan fokus pada segmen pembenihan saja namun langkah-langkahnya hampir sama dengan segmen pembesaran. Adapun langkah-langkah penyortiran adalah sebagai berikut.
Ø Pada malam sebelumnya benih tidak perlu diberi pakan (ikan dipuasakan dulu) untuk mengurangi tingkat stress pada ikan saat disortir.
Ø Menyiapkan kolam hasil sortiran dengan ukuran yang berbeda misalnya ukuran 1-2cm, 2-3cm, 3-4cm, dan 4-5cm.  Air kolam sudah dikondisikan dengan probiotik dan pH air berkisar 6-9.
Ø Siapkan alat dan bahan seperti baskom sortir, serokan, baskom tampungan sementara, serta minya sayur.
Ø Penyortiran dilakukan pada pagi hari maksimal sampai jam 09.00 dan sore hari mulai jam 17.00 sampai malam hari.
Ø Air kolam dibuang terlebih dahulu untuk memudahkan penyerokan benih.
Ø Penyortiran dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan baskom sortir sesuai ukuran.
Ø Tambahkan sedikit minyak sayur jika benih ditampung sementara dalam jumlah banyak didalam baskom.
Ø Masukkan benih kedalam kolam sesuai ukuran yang berbeda dengan padat tebar 1000-2000ekor/m2.
Ø Benih sudah bisa mulai diberi pakan kembali minimal 6 jam setelah proses penyortiran selesai.

Setelah benih selesai disortir semua, maka benih selanjutnya dipelihara dengan pemberian pakan sebanyak 3-4 kali sehari. Kualitas air harus dikontrol dengan melakukan penyiponan, penggantian air, penambahan probiotik hingga sepuluh hari kemudian benih bisa dilakukan proses penyortiran kedua. Pada proses ini semua prosedurnya sama dengan prosedur penyortiran diatas. Baskom sortir yang digunakan adalah ukuran 3-4cm, 3-5cm, dan 4-6cm. Benih hasil sortiran berupa ukuran 2-3cm, 3-4cm, 3-5cm, dan 4-6cm.

Tips Pemilihan dan Pemeliharaan Induk Lele


Untuk mendapatkan benih yang berkualitas maka belilah induk lele dari instansi terkait secara langsung. Misalnya untuk membeli induk lele Sangkuriang maka belilah secara resmi di BBPBAT Sukabumi. Pembelian secara resmi akan disertai sertifikat atau Surat Keterangan Asal Induk (SKAI) untuk menjamin kualitas benih yang nanti akan dihasilkan. Begitu juga jika kita ingin membeli induk lele Masamo maka belilah secara langsung pada PT. Matahari Sakti atau melalui distributor resmi. Pemilihan induk yang berkualitas nantinya akan menghasilkan benih yang berkualitas juga. Hal ini juga merupakan salah satu kunci sukses dalam usaha pembenihan lele. Prioritas kedua jika tidak mendapatkan induk lele dari instansi terkait secara langsung maka kita bisa mendapatkannya melalui Balai Benih Ikan pada Dinas Perikanan setempat atau pihak swasta yang sudah terpercaya. Induk yang baru saja dibeli kemudian di cek misalnya tidak terdapat luka, seluruh organ tubuh lele utuh, tidak lemas, dll . Jika keadaannya baik bisa langsung dimasukkan kedalam kolam indukan yang sudah disiapkan. Air kolam harus keruh dan padat tebar 4 ekor/m2. Berilah pakan induk secara teratur dengan pakan yang mengandung protein yang cukup tinggi. Pakan yang digunakan bisa menggunakan pellet khusus induk misalnya PF 128 atau pellet biasa dengan kadar protein minimal 30%. Pemberian pakan 1x sehari dan dilakukan pada malam hari sekitar pukul 20.00-22.00. Berikan juga pakan tambahan berupa ikan rucah, keong mas, atau cacing tanah dengan frekuensi 3 hari sekali. Induk biasanya akan siap memijah atau matang gonad setelah 2-3 bulan sejak awal pemeliharaan.

Rabu, 12 Februari 2014

Vaksin HydroVac; Pencegah Aeromonas Hydrophila Pada Lele

Aeromonas Hydrophila adalah salah satu bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada ikan yang dipelihara dengan sistem intensif. Bahaya utama yang dapat dimunculkan oleh bakteri ini adalah dapat menyerang ikan yang masih berukuran sebesar jari manusia untuk kemudian menyebabkan kematian massal. Diantara cirri-ciri ikan (terutama lele) yang terkena penyakit ini adalah bercak merah, borok, perut mengembung, dan benih lele menggantung. Penyakit inilah yang paling ditakuti oleh para petani ikan lele karena dapat menimbulkan kerugian yang besar bahkan bisa menimbulkan kematian ikan 100 %.

Metode yang banyak digunakan untuk menaggulangi penyakit pada ikan budidaya adalah pengobatan dengan zat kimia atau antibiotik. Cara ini sangat beresiko karena dapat menimbulkan resistansi terhadap bakteri, memerlukan biaya yang cukup mahal, serta dapat mencemari lingkungan. Antibiotik biasanya diberikan melalui makanan, perendaman, atau penyuntikan, sehingga residu antibiotik dapat terakumulasi pada ikan. Untuk menghindari dampak negatif dari penggunaan antibiotik, penanggulangan penyakit ikan diupayakan melalui peningkatan kekebalan ikan dengan vaksinasi. Salah satu vaksin yang digunakan untuk mencegah penyakit Aeromonas adalah HydroVac.

HydroVac dapat menginduksi respon kekebalan fisik pada ikan, dan akan terdeteksi dalam waktu 2-3 minggu pasca vaksinisasi. Dengan sekali pemberian, vaksin HydroVac mampu melindungi ikan terhadap infeksi penyakit Aeromonas selama 3-4 bulan. HydroVac mengandung sel utuh (whole cell) bakteri A, hydrophilia kode isolate 26, Phosphate Buffered Saline (PBS) dan bahan preservative.
Untuk meningkatkan kadar antibodi hingga level protektif, perlu dilakukan vaksinasi ulang (booster) yang diberikan 1,5 bulan kemudian. Booster akan meningkatkan level antibodi yang sangat signifikan selama 3-12 bulan.

Persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi terhadap ikan lele yaitu :
1. Ikan telah berumur 3 minggu atau lebih,
2. Status kesehatan ikan harus dalam kondisi baik, hindari memberikan vaksin pada populasi ikan yang sedang sakit,
3. Suhu air relatif hangat (di atas 25 derajat celcius) dan stabil.

Aplikasi HydroVac:

1. Perendaman
Perendaman dalam larutan HydroVac selama 15-30 menit. Perendaman dapat dilakukan dalam bak beton/fiber glass/akuarium atau ember plastik. Dosis yang digunakan adalah 100 ml vaksin untuk setiap 10 liter air. Jumlah ikan untuk sekali perendaman kurang lebih sebanyak 20.000-25.000 ekor/m3, dan larutan bekas rendaman tersebut masih bisa digunakan sekali lagi untuk vaksinasi dengan jumlah ikan yang sama.
2. Melalui pakan ikan (pellet).
Teknik ini cocok untuk ikan yang sudah dipelihara di kolam atau vaksinasi ulang (booster). Vaksin diencerkan terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian dimasukkan ke dalam alat semprot. Semprotkan larutan vaksin tersebut ke pakan secara merata, dikeringanginkan dan selanjutnya segera diberikan kepada ikan. Dosis yang diberikan adalah 2-3 ml/kg bobot tubuh ikan. Pemberian vaksin melalui pakan sebaiknya dilakukan selama 5-7 hari berturut-turut.
3. Melalui Penyuntikan
Teknik ini cocok untuk induk maupun calon induk ikan. Aplikasi dapat dilakukan secara intra politoneal (i.p) atau intra muscular (i.m). Dosis yang diberikan adalah 0,1-0,2 ml/kg bobot ikan.

Vaksinasi Pada Ikan

Salah satu penghambat dalam budidaya perikanan adalah adanya penyakit yang menyerang ikan. Cara penanganan ikan yang sakit (atau pengendalian penyakit) bisa dengan pencegahan maupun pengobatan.

Obat dan antibiotika efektif dalam pengobatan penyakit parasitikdan bakterial, tetapi antibiotika menimbulkan masalah, antara lain resistensi bakteri, residu antibiotika di ikan (untuk keamanan pangan) dan residu antibiotika di perairan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Karena itulah beberapa produk perikanan Indonesia di tolak pasar Uni Eropa karena terdapat residu antibiotik.

Cara yang paling murah dan efisien dalam pengendalian penyakit adalah dengan pencegahan. Mencegah timbulnya penyakit dapat dengan pengelolaan lingkungan, penggunaan pakan yang tepat mutu, tepat jumlah,dan tepat pemberiannya. Salahsatu cara pencegahan yang sekarang sudah mulai diaplikasikan adalah dengan cara menimbulkan kekebalan tubuh.

Kekebalan pada ikan dapat ditimbulkan baik dengan menggunakan vaksin maupun dengan menggunakan imunostimulator lain. Prinsip dasar vaksinasi yaitu memasukkan vaksin/antigen kedalam tubuh ikan sehingga antigen tersebut merangsang system imun tubuh ikan untuk memproduksi antibodi(kekebalan specifik).

Dengan hanya 1 atau dua kali pemberian vaksin biasanya daya tahan tubuh/kekebalan akan bertahan sampai akhir masa pemeliharaan ikan. Vaksinasi memiliki beberapa keunggulan, yaitumampu menggantikan antibiotik, tidak ada dampak negatifpada ikan, tanpa residu berbahaya, tidak membuat patogen resisten, serta bisa diterima pasar (ekspor).

Salah satu penentu keberhasilan program vaksinasi yaitu bagaimana dan kapan sebaiknya vaksin itu diberikan. Karena itu ada beberapa persyaratan yang sebaiknya diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi terhadap ikan, yaitu :

(1) Sebaiknya ikan telah berumur 3 minggu atau lebih, karena pada umur kurang dari 3 minggu, organ-organ yang berperan dalam sistem pembentukan antibodi belum sempurna.

(2) Ikan yang akan divaksin harus dalam kondisi optimal. Ikan yang sedang sakit/stres sebaiknya jangan divaksinasi terlebih dahulu sampai ikan sehat lagi.

(3) Suhu air relatif hangat (diatas 26 oC). Vaksinasi dan pemeliharaan ikan pada suhu air ≥ 28 oC menyebabkan respon antibodi yang terbentuk akan lebih cepat dibandingkan dengan suhu air yang lebih rendah.

(4) Air yang digunakan untuk melakukan vaksinasi dan pemeliharaan ikan harus bebas dari unsur polutan. Air yang mengandung unsur polutan akan menghambat proses pembentukan antibodi dalam tubuh ikan.



Teknik aplikasi vaksin pada ikan ada beberapa cara yaitu:

(1) Aplikasi vaksin melalui perendaman

Teknik perendaman biasanya diaplikasikan untuk ikan yang ukurannya kecil dan dalam jumlah banyak. Ikan yang akan divaksinasi dimasukkan/direndam kedalam larutan yang telah diberi vaksin selama 15 – 30 menit. Selama proses vaksinasi sebaiknya dilengkapi dengan aerasi dan kepadatan ikan tidak terlalu tinggi (antara 100 – 200 gram/L air).

(2)Aplikasi vaksin melalui pakan

Teknik ini lebih sesuai untuk ikan-ikan yang sudah dipelihara dalam kolam pemeliharaan ataupun sebagai upaya vaksinasi ulang (booster). Dosis vaksin yang digunakan untuk teknik ini sesuai dengan dosis yang direkomendasikan (sebagai contoh untuk vaksin HydroVac adalah 3-5 ml/kg bobot tubuh ikan) dan pemberian vaksin melalui pakan sebaiknya dilakukan selama 5 – 7 hari berturut-turut.

(3) Aplikasi vaksin melalui suntikan

Cara pemberian vaksin dengan melalui suntikan lebih tepat untuk ikan-ikan yang berukuran relatif besar, jumlahnya tidak terlalu banyak dan berharga, misalnya induk ikan. Keuntungan pemberian vaksin melalui penyuntikan adalah 100% vaksin dapat masuk ke dalam tubuh ikan. Cara penyuntikan yang biasa dilakukan, yaitu dimasukkan ke rongga perut (intra peritoneal) dan dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik (needle) kira-kira 30o.(trobos.com)

Sabtu, 01 Februari 2014

Obat Alami Untuk Ikan Lele, Gurame, dan Patin

Antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalah bawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa). Hasil penelitian menginformasikan bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata). 

Daun sirih diketahui berdaya antioksidasi, antiseptik, bakterisida, dan fungisida. Tanaman sambiloto bersifat anti bakteri, sedangkan daun jambu biji selain bersifat anti bakteri juga bersifat anti viral. Beberapa tanaman obat yang sudah diteliti oleh peneliti dari BRKP DKP. 

Jenis Tanaman Dosis Perlakuan Peruntukan/Khasiat

Meniran




Pemberian 5000 mg daun Meniran   di aplikasikan untuk 1 liter air, di rendam selama lima jam Rendam (5 jam) atau bisa juga di tebarkan tebarkan ke kolam. 
Puasakan ikan selama 2 hari, malam nya di beri pakan sedikit 
Pengobatan Aeromonas hydrophila

Kipahit



Pemberian 10.000 mg daun Kipahit untuk 1 liter air 
Cara aplikasinya rendam daun selama  3 jam lalu siap di tebarkan ke kolam yang terkana Mycobacteriosis

Daun Semboja

600-700mg/l
Rendam
Anti Aeromonas hydrophila

Sambiloto

4 Sambiloto 200-300 mg/l
Rendam (lama)
Anti Aeromonas hydrophila
400 mg/l Rendam (lama) Meringankan KHV

Mengenai potemsi ekstrak daun kipahit setelah diteliti ternyata mampu menanggulangi penyakit mycobacteriosis” pada ikan Gurame. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium penyakit ikan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor.

Pengujian yang dilakukan terhadap ikan Gurame ini ternyata pada level konsentrasi 10.000 mg/l dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan perendaman ikan uji yang terinfeksi bakteri dengan dosis yang sama dengan lama perendaman 3 jam dapat digunakan untuk pengobatan penyakit Mycobacteriosis.

Sedangkan untuk menyembuhkan penyakit ikan yang disebabkan oleh Jamur bisa digunakan kunyit, bawang putih, daun sirih, daun pepaya dan brotowali. Bahan-bahan ini dapat berguna untuk membasmi penyakit jamur yang menempel pada tubuh ikan, walaupun dalam membasmi suatu penyakit dengan menggunakan bahan-bahan alami memiliki waktu yang lama. Kemudian dari ke-5 bahan-bahan alami yang dapat menyembuhkan penyakit jamur pada ikan yaitu bawang putih. 

Berikut keterangan mengenai tanaman yang berkahasiat lainnya: 
1. Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
2. Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
3. Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
4. Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
5. Daun jombang dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin (sumber)

Jumat, 24 Januari 2014

Cara Membuat Pakan Lele dari Ampas Tahu

Dalam usaha Budidaya lele kita juga bisa membuat ramuan pakan organik yang berbahan dasar "Ampas Tahu" dengan tujuan agar lele dapat berkembang seperti di habitat aslinya yaitu memakan makanan yang berasal dari bahan organik dan ikan lele akan tumbuh dengan baik. Selain itu hal tersebut juga untuk menekan atau mengurangi biaya pengeluaran serta mengurangi menumpuknya limbah dari Ampas Tahu tersebut.

Berikut kami akan jelaskan teknik pembuatan pakan lele dari ampas tahu. Sebelumnya persiapkan bahan-bahan sebagai berikut:
1. Ampas Tahu 5 Kg
2. Dedak Halus 5 Kg
3. Tepung Ikan 1 Kg
4. Tetes Tebu/Molase 1 liter
5. Probiotik 200 ml
6. Ragi Tempe 2 sdm

Setelah seluruh bahan dicampur dan diaduk rata kemudian dimasukkan ke dalam drum/ember/kantong plastik yang diberi lobang udara dengan menggunakan selang untuk mengalirkan gas/udara yang ujungnya ditutup plastikatau bekas gelas air mineral tetapi jangan terlalu tertutup rapat (sebagian terbuka untuk keluar masuknya oksigen). Kemudian disimpan dan dibiarkan selama 5 hari agar terjadi proses fermentasi secara alami.

Setelah di Fermentasi 5 hari Pakan Lele Organik sudah bisa dimanfaatkan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Bisa diberikan langsung ke Lele dengan cara dikepalkan sehingga lele bisa mengkonsumsi secara langsung
2. Disarankan diberikan ke Lele yang umurnya diatas 1 bulan dari penebaran ukuran benih 5-7, sebelumnya bisa diberikan dari hasil fermentasi dan pakan alami pupuk kandang
3. Pemberiannya jangan bersamaan dengan pemberian pellet ikan
4. Prosentase pemberian 5% dari Biomas Ikan (1,5 – 2 kali jumlah pemberian pakan Pellet).
5. Frekuensi pemberian pakan lele organik dari ampas tahu ini bisa 2 – 3 kali sehari diberikan pada pagi/siang hari

Jadi dari penjelasan diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa budidaya ikan lele organik sangatlah murah dan mudah. Sebab harga pakan lele pabrikan yang berbentuk pellet harganya terus mengalami kenaikan, saat ini sudah di atas Rp 9.000 . Sedangkan harga pakan lele organik cuma berkisar Rp 2.000 - 3.000 perliter atau pun per kg fermentasi ampas tahu tergantung harga bahan mentah yang digunakan. (diolah dari deptan.go.id)

Cara Membuat Pakan Alami Lele dari Kotoran Sapi

Ada berbagai cara dalam mengolah limbah atau kotoran sapi menjadi pakan alternatif untuk lele. Mengapa yang digunakan adalah kotoran sapi? Hal ini karena kotoran sapi lebih cepat diuraikan dan menghasilkan organisme dengan bantuan probiotik sehingga bisa digunakan sebagai pakan utama lele.
Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:

1. Kumpulkan kotoran sapi yang telah dikeringkan
2. Dalam keadaan kering kotoran sapi tersebut di masukkan ke dalam kolam
3. Campurkan larutan probiotik dan tetes tebu/gula dengan perbandingan 1 liter probiotik Biocatfish 2 liter tetes tebu/gula dan 10 liter air sampai merata.
4. Dalam waktu 7-10 hari akan tumbuh plankton-plakton yang akan menjadi pakan utama lele.
5. Cara pemberian pakan untuk lele cukup diambil beberapa ember dari kolam yang berisi plankton tadi kemudian dimasukkan kedalam kolam lele dan dalam waktu kurang lebih 3- 4 bulan lele bisa di panen. (diolah dari deptan.go.id)

Memang menggunakan pakan organik dari kotoran sapi memerlukan waktu panen yang sedikit lebih lama dari cara budidaya biasa dengan menggunakan pellet tetapi dari sisi perbandingan biaya pakan akan sangat jauh berbeda. Bahkan menggunakan pakan organik dari fermentasi kotoran sapi ini dapat menghemat pakan 30-60%. Budidaya lele dengan pakan organik dari kotoran sapi banyak sekali manfaatnya, diantaranya adalah tidak perlu sering mengganti air kolam, lele organik mempunyai rasa daging yang lebih gurih, air bekas budidaya lele organik sangat baik untuk memupuk tanaman baik untuk pembibitan tanaman hortikultura (cabe, tomat dan lain-lain) ataupun untuk pembibitan tanaman keras seperti bibit jabon, sonokeling dan lain-lain serta masih banyak lagi manfaat lele dengan pakan organik ini.

Silahkan dicoba praktekkan sehingga bisa mensiasati budidaya lele untuk memperoleh hasil maksimal dengan modal minimal walau hanya menggunakan bahan pakan yang ada disekitar kita.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Cara Membuat Pakan Alternatif Lele

Dalam beberapa tahun terakhir sejak munculnya strain baru lele yaitu lele sangkuriang pada tahun 2004, budidaya lele semakin pesat berkembang dan diminati masyarakat luas sebagai bisnis sampingan atau budidaya dalam skala besar. Belum lagi dengan hadirnya lele jenis phyton dan masamo, serta akan hadirnya strain lele sangkuriang jilid II yang semakin menggusur kepopuleran lele Dumbo yang eksis sejak tahun 80-an. Dengan berbagai keunggulan seperti pertumbuhan yang cepat, pakan lebih hemat, ikan lebih kuat dan tahan terhadap berbagai penyakit membuat ikan lele semakin hari semakin diminati masyarakat. Bahkan diberbagai tempat permintaan pasar akan pasokan ikan lele selalu kurang. Dengan semakin luasnya permintaan pasar, maka banyak para peternak lele pemula bersemangat untuk ikut ambil bagian dalam usaha budidaya lele. Namun setiap bisnis atau usaha hampir selalu memiliki kendala, pakan misalnya. Dengan semakin tingginya permintaan pakan buatan untuk ikan lele maka semakin hari harga pakan pellet semakin tinggi saja. Bayangkan, untuk didaerah Palembang saja, harga pakan pellet dipasar dengan kadar protein 28-30% dipatok Rp 240.000,-/sak(30kg) sedangkan pakan pellet dengan kandungan protein 31-33% dipatok harga Rp 270.000,-/sak(30kg). Mahalnya harga pakan ikan lele membuat para peternak lele berpikir ulang berkali-kali untuk budidaya lele. Oleh karena itu harus betul-betul pandai dalam management pakan lele. Jika 100% pakan beli dari toko pertanian yaitu pellet, maka profit yang diharapkan tentunya sangat sedikit, dikarenakan pengeluaran tertinggi ada di pembelian pakan.

Namun, hal ini tidak lagi terjadi jika peternak dapat mencari pakan alternatif sendiri. Banyak para peternak lele masih belum mengetahui akan hal ini, terutama para pemula yang baru saja beternak lele, padahal masalah pakan ini dapat diakali dengan bantuan pakan alternatif.
Pakan alternatif sangatlah banyak, asal peternak mau berusaha mencari dan tidak jijik. Beberapa yang dapat dijadikan pakan alternatif ikan lele diantaranya :
1. Limbah ikan di pasar
2. Usus/jeroan ayam
3. Bekicot / keong mas
4. Kotoran sapi
Nah, pada point 1-3 di atas, semuanya dapat diberikan secara langsung tanpa melalui proses hingga menjadi pakan siap pakai. Sedangkan kotoran sapi (Tletong) harus melalui beberapa tahapan agar bisa menjadi pakan yang memiliki kadar protein yang cukup untuk lele. Berikut akan akan diuraikan cara pembuatan pakan alternatif dari kotoran sapi.

Cara Membuat Pakan Alternatif dari Kotoran Sapi (Tletong) :
1. Ambil limbah kotoran ternak/sapi kira-kira 10 kg
2. Masukkan 20 tutup botol biocatfish yang merupakan probiotik khusus lele ke limbah kotoran sapi
3. Tutup rapat dalam wadah kedap udara (untuk mempercepat proses penguraian, penyatuan semua zat/kandungan atau inilah yang disebut fermentasi)
4. Setelah minimal 24 jam beri lubang untuk udara masuk biarkan selama minimal 3 hari semakin lama semakin bagus (setelah 3 hari lebih akan keluar cacing)
5. Pakan sudah jadi dan siap diberikan ke lele (sumber: Mahakam.biz)

Untuk mempercepat proses penguraian kotoran ternak, dapat juga diberi tambahan berupa ampas kelapa, air beras, air kelapa, atau kulit buah-buahan sesuai dengan ketersediaannya ditempat masing-masing. 

Baca juga Cara Pembuatan Pakan Lele dari Fermentasi Ampas Tahu